Pengemis yang Datang Berulang

Sekitar 5 bulan yang lalu, ibu-ibu paruh baya datang ke rumah dan meminta sedekah. Ada 4 orang. Kami beri.

Sebulan kemudian mereka datang kembali. Kami beri.

Bulan berikutnya mereka datang kembali. Kami beri.

Sebulan yang lalu mereka datang kembali. Kami beri. Waktu itu kami beri jauh lebih banyak dari biasanya, karena tidak ada uang pecah. Nasib. Tapi kami ikhlas. Saya tanya mereka ini sebenarnya dari mana. Dijawab kalau mereka dari kabupaten sebelah.

Dua pekan lalu mereka datang kembali saat adik saya sendirian di rumah. Sebenarnya kami sepakat untuk tidak menerima tamu, terlebih orang asing, saat adik saya sendiri. Tapi adik saya “terpaksa” harus. Karena mereka tidak kunjung pergi.

Mereka selalu mengucapkan salam ketika datang. Tapi waktu itu mereka mengucap salam seperti orang marah-marah. Adik saya lalu keluar memberi. Agar mereka segera pergi. Diberi sedikit saja.

Hari ini mereka datang lagi. Kali ini kami tolak. Kami tidak memberi. Tidak berlebihan rasanya kalau saya katakan mereka ini ketagihan mengemis. Apakah 5 bulan ini tidak ada waktu untuk berkarya selain mengemis?

Secara fisik mereka sehat-sehat. Cara berjalannya masih mantap, tidak sempoyongan. Kenapa tidak mencoba pekerjaan lain, sebagai rasa syukur terhadap nikmat sehatnya. Apa hasil mengemis sebelumnya masih tidak cukup untuk modal usaha misalnya?

Menengok berita pengemis punya Innova, menyadarkan kita untuk tidak harus selalu memberi kepada pengemis.

Sebagai negara yang gemar bersedekah, mestinya kita menyalurkan sedekah kita ke pihak yang secara jelas membutuhkan atau melalui agen penyalur sedekah terpercaya.

2 tanggapan untuk “Pengemis yang Datang Berulang”

  1. Tulisan yang menarik, mas. Saya bisa relate dan sepakat banget bahwa kita sebaiknya menyalurkan sedekah kita ke pihak yang secara jelas membutuhkan atau melalui penyalur yang terpercaya.

    Tentang pengemis yang kalau di tulisan ini diceritakan mengucap salam dengan marah-marah, saya teringat ada penjual rempeyek yang terkadang lewat depan rumah menawarkan rempeyeknya. Suatu hari dia cerita sedih kalau sudah tak pernah ketemu suaminya lagi. Beberapa hari kemudian datang lagi ceritanya sudah berubah 180%, dia lupa pernah bilang suaminya udah lama ngga ketemu. Lain waktu dia minta tolong anaknya dibantu biaya sekolahnya. Tapi dia bilang, “tapi jangan bilang-bilang anak saya kalo sekolahnya biayanya dibantu, nanti dia malu ke teman-temannya”. Maka dengan mempertimbangkan cerita yang berubah-ubah dan rasa gengsi yang masih ada, akhirnya kami tak menganggapnya serius.

    Lain hari, ada seorang teman yang menitipkan anaknya untuk bekerja di rumah orang tua saya. Dia putus sekolah. Maka disekolahkanlah anak itu di SMP dekat rumah orang tua saya. Namanya dititip maka sesekali wajar kalau sekadar bantu-bantu cuci piring. Ternyata dia malah update status Fb yang mengesankan dia dipaksa kerja.. ditambah lagi ada pesan dari kepala sekolah bahwa ternyata dia pacaran. Akhirnya ditanya, masih mau lanjut sekolah apa mau dipulangkan. Dia memilih dipulangkan. Teman saya tentunya kecewa dengan pilihan tersebut, tetapi mau gimana lagi. Akhirnya sekarang kami dapat kabar kalau sang remaja tadi malah beneran jadi pembantu rumah tangga dan tidak sekolah.

    Saya ada 1 cerita lagi, teman saya cerita kalau dia dititip sepupunya buat disekolahin. Teman saya pun menyekolahkan, dia ga minta si sepupu ini buat bantu2, tugasnya sekolah aja, tapi ada syaratnya yaitu kalau azan agar sholat di mushola yang letaknya di seberang jalan depan rumahnya. Sang anak daripada sholat berjamaah lebih memilih dipulangkan ke rumahnya.

    Seiring berjalannya waktu saya pun memahami tak semua orang ternyata pantas menerima bantuan, lebih baik diserahkan ke yang benar-benar memerlukan dan akan bermanfaat untuknya.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Hmm, menarik Mas. Terima kasih atas ceritanya. Wah, pasti mengesalkan sekali ya. Sudah dibantu malah menyia-nyiakan (untuk tidak bilang tidak tahu diri). Hehehe.

    Yah, semoga saudara kita, semuanya, yang masih seperti itu agar segera menemukan titik balik positif dalam hidupnya. Termasuk kita ini juga, agar tidak terlena dan terus mengoreksi diri.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: