Sekolah

Foto oleh Agung Pandit Wiguna di Pexels.

Sekolah adalah tempat berlangsungnya aktivitas belajar dan mengajar. Saking eratnya sekolah dengan pendidikan, sudah menjadi konsensus bahwa sekolah menjadi parameter utama untuk mengatakan seseorang adalah orang yang terdidik atau tidak.

Sebagai sebuah institusi formal dalam pendidikan, akan menjadi suatu pemandangan yang aneh apabila guru atau siswa mengenakan kaus oblong dan sandal jepit saat kegiatan belajar-mengajar. Sayangnya, keadaan formal sekolah sebagai suatu institusi terkadang membuat sekolah menjadi kelewat kaku.

Belajar itu, ya rumus. Olimpiade itu, ya cerdas cermat. Sejarah itu, ya tanggal, bulan, dan tahun. Pendidikan kewarganegaraan, ya pasal-pasal. Disiplin, disiplin, dan disiplin. Ini hanya pengandaian tanpa bermaksud menyoroti mata pelajaran sejarah dan pendidikan kewarganegaraan.

OSIS SMA Bakti Negeri memiliki kompetisi tahunan Bakti Negeri Cup. Kompetisi itu mengundang seluruh SMA sederajat se-kabupaten untuk bertanding dan memperebutkan piala bergilir dari bupati. Bakti Negeri Cup selalu berjalan sukses dari tahun ke tahun.

Di balik layar, OSIS SMA Bakti Negeri sering mendapatkan halang rintang dari pihak sekolah yang tidak begitu mendukung kegiatan non-akademik. Tentu SMA Bakti Negeri bukanlah nama sekolah sebenarnya.

Suatu masa, di sekolah lain, ada salah satu anggota keluarga dari seorang siswa meninggal dunia. Pemakamannya pukul satu siang. Sudah menjadi kebijakan sekolah, agar wali kelas dan siswa satu kelas takziah. Jarak rumah duka dari sekolah agak jauh, sehingga selepas salat zuhur di jam istirahat siang mereka harus sudah berangkat.

Singkat cerita, selesai takziah wali kelas dan siswa sampai di sekolah pukul setengah dua lebih. Karena belum sempat makan dan minum, siswa meminta izin kepada wali kelas untuk istirahat di jam yang seharusnya untuk KBM. Wali kelas memperbolehkan.

Kepala sekolah melihat siswa yang istirahat di jam yang tidak semestinya, lalu menegur siswa tersebut beserta wali kelas yang telah memberikan waktu istirahat. Meskipun habis takziah, tidak semestinya menjadi alasan untuk meminta jatah istirahat, katanya.

Di masa yang lain, ada seorang guru ingin meminta izin untuk mengantar anaknya cuci darah. Guru tersebut sudah membawa anaknya ke sekolah bersamanya agar dapat langsung menuju rumah sakit. Lagi-lagi, kepala sekolah tidak mengizinkan, meminta anggota keluarga yang lain untuk mengantarkan.

Beruntung, guru tersebut tetap dapat mengantar anaknya setelah seorang wakil kepala sekolah yang kebetulan lebih senior daripada kepala sekolah itu sendiri mengizinkan.

Disiplin waktu, disiplin terhadap hak dan kewajiban itu harus. Namun sekolah semestinya tak luput terhadap kesadaran bahwa setiap manusia itu pada dasarnya memiliki potensinya masing-masing. Selain itu, semestinya sekolah menjadi salah satu tempat terbaik untuk menanamkan nilai-nilai sosial. Sekolah memang formal, namun tak boleh terlampau kaku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: